Saya sering terbaca pandangan penulis lain yang mentafsirkan menulis blog sama seperti menulis diari. Saya setuju sekiranya kenyataan tersebut merujuk terus kepada maksud weblog itu sendiri iaitu buku harian peribadi dalam talian. Mungkin atas dasar itu kebanyakan daripada kita lebih selesa menulis kegiatan seharian berbanding mengetengahkan isu-isu yang mencabar minda untuk dijadikan tulisan. Tidak salah. Tapi satu yang kurang mendapat tempat di hati saya ialah bila penulis blog turut menyamakan cara penulisan diari dengan blog.
Pada saya menulis di dalam blog itu adalah seni. Satu perkongsian yang bertujuan memperkembangkan kesusasteraan kita, justeru sebagai catatan untuk rujukan di masa hadapan. Seperti mana novel begitulah juga dengan hasil tulisan blog. Dengan menerbitkannya penulis sedar dan telah bersedia untuk berkongsi segala pengetahuan yang diketahuinya dengan pembaca. Maka saya tidak dapat menolak rasional penggunaan ayat yang sempurna sifatnya semasa menulis blog.
Sedangkan menulis diari itu lebih bersifat personal dan ringkas. Tidak perlu dibebani dengan kupasan pelbagai isu atau sekurang-kurangnya pengolahan ayat yang menarik. Pendek kata seperti trengkas. Menjadikan penulisan semudah memakan kacang tanah. Peliknya kenapa kita masih lagi keliru menulis untuk dijadikan diari atau pun menulis blog untuk dijadikan bahan bacaan orang lain?
Jangan sempitkan pemikiran dengan ungkapan “saya punya blog saya punya suka tulis apa saya mahu”. Itu salah! Apa lagi bila ditambah dengan perkataan “saya tak suruh korang baca blog saya”. Ingat sebagai pembaca saya berhak untuk menyuarakan apa yang saya rasa. Sama seperti hak anda untuk menulis. Terpulang kepada anda sama ada hendak mendengar atau membuang terus dari gegendang telinga, yang penting usaha untuk menasihati telah saya ambil.
Saya terfikir, kalau betullah niat anda menulis blog sememangnya untuk bacaan sendiri sahaja, kenapa perlu bersusah-payah mempromosikannya secara meluas? Bukankah menulis di dalam diari lebih selamat? Jangan hiprokit kawanku, jangan biarkan lidah bercabang bagai biawak menguasai diri. Masing-masing tahu tujuan asal berblog.
Tulislah mengenai topik apa pun, atau jadilah badut yang paling lawak di dunia sekali pun, tiada siapa yang akan menghalang. Tapi biarlah atas dasar ingin berkongsi sesuatu yang bermanfaat. Bermanfaat dari segi apa? Itu terpulang kepada persepsi sendiri, yang jelasnya artikel berkualiti tidak hanya terhad kepada buku teks atau info semata-mata. Paling penting aspek bahasa itu sendiri. Jangan korbankan warisan turun-temurun semata-mata untuk memenuhi tuntutan pembaca!
Saya tidak berniat menyalahkan 100% golongan yang sengaja mengeksploitasi diri secara berlebihan dalam penulisan. Mungkin niat mereka baik untuk meneruskan kesusasteraan dan bahasa kita dalam konteks yang lain. Mungkin dalam bentuk sastera kreatif. Siapa tahu bukan. Rambut sama hitam, hati lain-lain. Tetapi bila semuanya nampak serba tidak menjadi dan terpapar dengan jelas caca marbanya, adakah itu juga dikira sebagai suatu sastera kreatif? Apa yang pelik tidak ada satu pun usaha diambil oleh pembacanya untuk menyedarkan individu terbabit! Semuanya menjadi seperti Pak Turut yang hanya tahu mengangguk-angguk mengiyakan hal yang batil. Kalau pun ada, ia seperti kuali yang mengatakan belanga itu hitam. Sungguh saya rasa terkilan dengan penulis seperti ini, dengan nyata menggadaikan maruah sendiri untuk mengejar traffik.
Adakah maruah seorang penulis blog ditentukan oleh ranking Alexa? Atau Page Rank? Mungkin juga atas cek yang dihantar oleh penaja masing-masing?
Inilah akibatnya bila diri dipaksa melakukan sesuatu yang bukannya atas dasar minat atau kecenderungan sendiri. Apa lagi bila niat asal itu diselewengkan dek kerana terpesona dengan limpahan perhatian daripada orang lain. Berjalan pun sudah dirasakan seperti tidak menjejak bumi. Sehinggakan blog sudah seperti tempat menjual petai hampa. Selaras dengan konsep “ini blog saya”.


Salam jumpa, antar sahabat maya,
Membaca artikel Mama yang berjudul: “Menulis blog itu boleh disamakan dengan menulis diari ke?” Menurut penyimpulan saya bahwa Mama murai mempunyai pandangan : menulis blog itu TIDAK SAMA dengan menulis diari. Saya sendiri berpendapat sesuai arti/batasan pengertian BLOG dan DIARI secara umum, maka keduanya tidak perlu dicari persamaannya karena keduanya memang BERBEDA.
Istilah/kata DIARI itu lahir lebih dahulu. Menurut pengkajian saya berasal adopsi bahasa Inggeris DIARY yang berarti buku untuk mencatat kejadian sehari-hari. Kejadian yang menyangkut peristiwa atau kejadian kegiatan seorang sehari2, kegiatan kelompok/organisasi (pengertian “diari “yang diperluas), dengan kekhasannya ialah DIARI itu bersifat PRIBADI hanya catatan kegiatan seseorang untuk membantu ingatan pembuat diari. Kalau diari yang dibuat kelompok/organisasi, ya bersifat pribadi terbatas untuk kelompok/organisasi mereka!
Sifat pribadi di sini berarti materi yang tertulis dalam diari tidak dipublikasikan! Maka menulisnya di buku khusus yang sering kali dijaga kerahasiaannya untuk hal2 tertentu.
Sedang BLOG istilah itu muncul kemudian setelah adanya internet jadi baru sekitar th 80-90-an. Para pelaku/blogger tentu tahu yang ditulis dalam blognya bersifat publikasi, sangat mungkin dibaca orang lain. Kalau saya sebut “sangat mungkin dibaca orang lain” mungkin juga TIDAK dibaca orang lain karena tidak menarik, membosankan dll. Tetapi harus disadari: menulis dalam blog SAMA DENGAN mempublikasikan tulisan kita. Kalau ada orang menganggap blog seperti diari dia bersikap CEROBOH. Tulisan yang ia buat sangat mungkin dibaca orang banyak. Dengan menulis di blog, disadari atau tidak ia sudah mengumumkan tulisannya. Sama persis kalau ia menulis di koran, majalah dan media publikasi lain.
Oleh karena itulah di dalam kita menulis blog itu harus melekat rasa TANGGUNG JAWAB. Bahwa tulisan kita mempunyai pengaruh kepada orang lain, pengaruh positif maupun negatif.
Maka saya jadi bingung kalau ada seseorang mengatakan: “Ini blog saya sendiri, Saya tidak minta orang lai untuk membaca!” Padahal menulis diblog itu adalah media publikasi!!
Ini sebenarnya menyangkut rasa tanggung jawab dan iktikad baik dalam diri seseorang ketika ia menulis di blog. Maka ETIKA ber-blog yang bertanggung perlu diciptakan!! Oleh siapa ? Oleh para blogger sendiri. Caranya bagaimana? Ya seperti artikel yang saya kirim ke email Mama.
Saya mengajak Mama setelah saya sering baca artikel Mama. Saya memperkirakan Mama punya kepedulian besar untuk hal-hal semacam ini. Semoga
Salam blogger
Selamat sejahtera Eyang,
terima kasih di atas penerangan yang cukup terperinci daripada Eyang. Saya suka sekali dengan pendapat ini.
Minta maaf kerana belum mendapat email seperti yang telah Eyang katakan. Mungkinkah Eyang telah menghantar artikel tersebut kepada orang lain? Untuk pengetahuan Eyang, email saya ialah mamamurai@gmail.com
dan saya sangat-sangat mengalu-alukan sebarang artikel daripada Eyang. Ditunggu emailnya ya..
Salam kenal
Sekadar pendapat peribadi
Antara maksud menulis itu sendiri adalah melahirkan perasaan (fikiran) dengan catatan huruf. Jadi menulis di blog itu boleh juga melahirkan perasaan dan buah fikiran. Tapi tidak terlalu peribadi sebab blog itu bersifat “umum” dan boleh dibaca oleh orang lain.
Kalau sikit-sikit catatan peribadi sekadar ingatan di hari tua tu rasanya tidaklah menjadi kesalahan. Ada waktunya ilmu itu diperolehi daripada catatan kehidupan. Kita belajar daripada pengalaman orang lain
Assalaamu`alaikum Mrs.Ayie,
salam kenal untuk awak juga, terima kasih kerana sudi berkunjung ke teratak buruk saya yang tidak seadanya ini. Jangan malu, jangan segan buat seperti rumah sendiri ye.
Pandangan yang menarik dan cukup bernas. Kalau kita singkap kembali sejarah peradaban dunia pun, semuanya berbalik kepada bagaimana cara hidup mereka pada zaman itu bukan? Manuskrip lama pun sekiranya kita buka kembali, pasti banyak catatan kehidupan lampau si pemiliknya.. Sebenarnya tulisan peribadi itulah yang menjadi panduan orang lain, saya setuju. Tapi bagaimana dengan mereka yang menulis hingga kelihatan seolah-olah mengadu domba dan terlalu peribadi? Rasanya tidak perlulah ia dicatat dalamnyakan.
Salam manis untuk saudari daripada saya.
kalau bagi saya, kedua duanya saya masukkan.tetapi cerita personal yang di relate kan dengan perkara yang berlaku dalam masyarakat. kadang kadang suka juga saya membaca blog peribdi ni terutmnya org yg saya kenal…
memang tak sama. saya tak pernah bagi orang baca diari saya. blog , bagi saya hanya tempat untuk perkongsian topik tertentu (niche). SETIAP TOPIK MEMPUNYAI GAYA PENYAMPAIAN YANG BERBEZA.
Ada ke orang nak buat diary dia panjang lebar seperti dalam blog siap ada kupasan? :smile:
Peribadi saya mengatakan blog memang tidak sesuai dianggap atau dijadikan atau disifatkan sebagai diari. Gaya penulisan sesemangnya selalu terdapat persamaan secara tidak sengaja atau disengajakan antara penulis. Setiap entri blog melambangkan sedikit sebanyak sifat penulis tersebut. Gaya profesional, gaya santai atau gaya yang tidak cukup matang secara jelas atau samar-samar tetap merujuk kepada penulis. Seperti cik mama katakan, mengapa perlu traffik sedangkan kalau itu ialah diari. Jelaslah bahawa niat si penulis bukan mahu menjadikan blog mereka itu diari, ia suatu yang berkaitan idea penulisan semata. Dalam konteks proses mencari idea, inilah saat kritikal sebelum menerbitkan entri. Perlu rancang betul-betul agar entri tersebut memberi kepuasan kepada kedua belah pihak, tidak setuju bagi saya jika menulis blog hanya untuk menarik perhatian dan kepuasan si pembaca sahaja. :smile:
banyak benda yang harus difikirkan/belajar dalam blogging nie… huhu… terima kasih diatas panduan itu…
ass.
numpang baca-bca. salam kenal.
kalo ngeblog bagi saya sambil bertukar pengetahuan.. itung 2 nambah pahala